//
you're reading...
ANALISA ISLAM

Upaya Sekulerisme Terhadap Hukum Islam

Bila sekularisasi dan sekularisme dimaknai seperti diatas, tentu saja sekularisasi pada batas tertentu tidak bertentangan dengan Islam. Pada titik tertentu Islam mentolerir perbedaan dan pluralitas tafsir sebagaimana ia juga mengakui relativitas tafsir. Halini dengan dibuktikan oleh sejarah peradaban Islam dimana kita melihat mazhab pemikiran, terutama sekali dalam bidang fiqh, berkembang dengan subur.

Pun begitu, Islam tidak lantas menepis kemungkinan adanya absolusitas tafsir, seperti dalam kasus ayat-ayat muhkamat ataupun prkatek-praktek ibadah yang prakteknya telah diturnkan dari generasi kegenerasi yang mana akal sehat sulit menerima adanya penipuan atau pembohoingan atas hal tersebut. Cara solat, puasa, haji dan lain sebagainya. Inilah yang dikatakan oleh al-Syahid Isma’il Raji al-Faruqi bahwa “continuity of Muslim practice throughout the centuries constitutes an irrefutable testament to the meanings attributed to the Quranic verses.” (kontinuitas praktek kaum Muslim sepanjang abad merupakan bukti tak terbantahkan akan makna yang dihubungkan pada ayat-ayat Al-Qur’an.”(Meta-Religion, AJISS, 1986, 40)

Tapi apakah sekularisasi sesederhana yang dibayangkan Fuad Zakariyya ataupun Nasr diatas. Apakah sekularisasi sekadar menolak absolusitas tafsir. Apakah hanya dengan melaksanakan demokrasi sebuah negara dapat dikatakan berideologi sekular. Tentu saja tidak. Karena sekularisasi melibatkan unsur lainyang jauh lebih fundamental dari sekedar kedua unsur disebutkan Nasr dan Zakariyya diatas.

Satu dari unsur tersebut adalah pengkebirian fungsi agama pada ruang publik, sosial, dan politik. Kata Peter L. Berger, “By secularization we mean the process by which sectors of society and culture are removed from the domination of religious institutions and symbols.” (yang kami maksud dengan sekularisasi adalah sebuah proses dimana sektor masyarakat dan budaya terlepas dari dominasi institusi-institusi dan simbol-simbol agama). (The Social Reality of Religion, 107).

Artinya dalam urusuan yang menyangkut kepentingan publik, agama tidak dibenarkan melakukan interfensi. Fungsinya hanya terbatas pada individu saja. Tidak lebih dari itu. Meminjam ungkapan Cox lagi, dalam dunia sekular, “Religion has been privatizeed. It has been accepted as the peculiar prerogative and point of view of particular person or group. (Agama telah diprivatisasikan. Ia diterima sebagai hak prerogatif dan pandangan individu tertentu saja.” (The Secular City, 2)

Lebih jauh lagi, dalam ruang individupun agama sebenarnya juga tidak punya peran. Karena fungsi agama telah diambil alih oleh akal manusia. Kalalah yang dijadikan tolok ukur, yang menetukan baik-buruk, benar-salah, etikal dan nonetikal, moral dan immoral. Inilah mungkin yang dimaksud Cox dengan “Liberation of man from the religious and metaphysical tutelage,” (pembebasan manusia dari asuhan agama dan alam metafisis) (The Secular City, 17)

Oleh Abdelwahhab el-Messiri proses inilah yang disebutnya dengan comprehensive secularism (al-‘almaniyyah al-syamilah), berbeda dengan partial secularism yang hanya berkutat pada pemisahan negara dan agama, seperti yang mungkin dipahami Nasr Hamid dan Zakariyya diatas.

Comprehensive secularism bermaksud “pemisahan seluruh nilai (apakah itu, nilai agama, moral, ataupun nilai-nilai manusia) bukan hanya dari “negara”, tapi juga dari kehidupan publik dan individu, dan bahkan dari dunia keseluruhannya. “ (Secularism, Immanence and Deconstruction, Islam and Secualrism in the Middle East, 68)

Disinilah sesungguhnya letak “kesadisan” sekularisasi: meskipun Cox menolak sekularisasi “menghabisi” agama, pada prakteknya sesugguhnya ia telah mengikis habis seluruh bentuk keberagmaan. Sebaliknya, ia telah merubah manusia menjadi “Tuhan“ sementara Tuhan pula disulapnya menjadi  “manusia.” (Man is deified, Deity humanized)

Mungkin inilah yang sempat disinyalir oleh Peter Berger dalam karyanya Facing Modernity. Dari dilema yang ditimbulkan modernity terhadap manusia, dia menyebutkan sekularisasi sebagai salah satu daripadanya. Katanya “for those who see trancendence as a necessary (because true) constituent of the human condition, secularization is an abberation, distortive of reality and dehumanizing. “ (bagi mereka yang berpandangan bahawa transendensi sebagai sebuah bagian keniscayaan bagi kondisi manusia, sekularisasi merupakan penyimpangan, distorsi realitas, dan dehumanisasi.” (Facing Modernity, 79)

Lebih jauh Donald Lee Berry menerangkan bahwa sekularisasi bukan hanya menimbulkan krisis kemanusian pada orang beragama. Dampak negatif yang samapun dapat dirasakan oleh yang tidak mempunyai komitmen keagamaan. Ini disebabkan, dengan meminjam ungkapan Berger ia menjelaskan bahwa:, “Sekularisasi telah menimbulkan frustasi atas aspirasi manusia yang paling dalam“ yang terpenting diataranya adalah, aspirasi untuk wujud dalam sebuah kosmos yang bermakna dan pada akhirnya memberi harapan.” (The Thought of Fazlur Rahman as an Islamic Response to Modernity, 41)

Kalaulah sekularisasi seperti yang baru saja digambarkan, bagaimanakah kita lantas dapat meletakkan sekularisasi dalam kerangka Islam yang sejak awal lagi telah meletakkan fondasinya atas otoritas wahyu, nabi, “ ulama serta keyakinan pada alam ghaib (metafisis). Bagaimanakah sekularisasi yang menolak konsep kesucian dapat berdampingan dengan Islam yang mengagungkan kesucian Al-Qur’an, serta menjunjung dan menghormati para nabi. Dimanakah lantas letak alam ghaib dalam bingkai sekularisasi yang dilegitimasi Nasr Hamid dan Zakariyya diatas. Mungkin menyadari akan hal inilah, makanya merekapun mencoba mendekonstruksi konsep kesusian Al-Qur’an dan fungsi kenabian Muuhammad (SAW) seperti yang akan dibahas dalam artikel berikutnya.

Penutup

Usaha untuk mensekulerkan Islam sebenarnya bukan barang baru dalam ranah pemikiran Islam. Usaha tersebut pernah ditempuh oleh Salamah Musa, Taha Husayn, Zaki Najib Mahmud, dan lain yang lainnya. Tapi usaha mereka ini masih belum membuahkan hasil, untuk tidak dikatakan gagal.

 

Diskusi

One thought on “Upaya Sekulerisme Terhadap Hukum Islam

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

    Posted by Mr WordPress | Februari 14, 2012, 12:21 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: